ukuran kandungan yang sehat


Buah Lokal yang Bermanfaat bagi Kesehatan


Sebagian orang mengosumsi buah-buahan, karena buah-buahan sebagai makanan yang sehat diperlukan oleh tubuh. Beraneka macam buah dengan berbagai kandungan vitamin dan mineral dapat kita temui. Mulai dari buah lokal sampai buah impor. Artikel kali ini akan membahas berbagai buah lokal yang dikenal dan tidak kalah gizinya dengan buah impor. Berbagai buah lokal di Indonesia merupakan buah yang memiliki rasa yang nikmat. Buah-buahan ini merupakan jenis buah tropis. Ternyata berbagai buah lokal ini selain nikmat untuk disantap memiliki banyak manfaat bahkan untuk kesehatan.

Berikut beberapa buah-buahan lokal yang bermanfaat bagi kesehatan:

Kesemek
Kesemek merupakan buah yang seperti memakai bedak, karena pada bagian kulitnya terdapat bagian putih yang seperti bedak. Dapat digunakan untuk menjaga kesehatan gigi karena mengandung fluoride serta berguna untuk menjaga kesehatan gusi dan mulut.

Sawo
Sawo matang merupakan salah satu jenis warna kulit yang biasa diberikan bagi yang memiliki kulit sedikit gelap. Hal ini tidak mengherankan karena kulit dan daging buah sawo berwarna cokelat dengan rasa yang sangat manis. Kaya akan karbohidrat karena 20% bagiannya terdiri dari gula. Sawo mengandung vitamin A, vitamin B, vitamin C dan kandungan potasium yang tinggi sehingga baik untuk menjaga kesehatan pembuluh darah.

Jambu Air
Jambu air dengan warna merah atau hijau yang khas. Buah ini banyak mengandung air. Buah yang langsung dimakan dengan kulitnya ini memiliki kandungan vitamin A, C, kalsium dan protein. Manfaatnya untuk menjaga kelembapan kulit dan serat untuk pencernaan.

Jambu Biji Merah
Jambu biji merupakan buah dengan kandungan vitamin C yang sangat tinggi selain kandungan kalsium, zat besi, fosfor, vitamin A dan B1. Sebaiknya memakan buah ini beserta kulitnya karena pada daging dekat kulit yang mengandung vitamin C paling banyak.

Jeruk Bali
Jeruk bali memiliki kulit yang tebal dan seperti spons. Bentuknya seperti jeruk, tetapi dalam ukuran yang lebih besar dan berwarna putih atau merah muda. Flavonoid, pektin dan likopen merupakan senyawa yang terdapat di dalamnya. Berfungsi untuk menurunkan kolesterol, mencegah anemia dan mengurangi risiko penyakit jantung. Selain itu, kulit dari jeruk bali bisa dibuat menjadi berbagai kerajinan yang menarik.

Belimbing
Starfruit adalah namanya dalam bahasa Inggris. Buah belimbing ini memang berbentuk bintang dengan lima sudut. Kandungan vitamin E di dalamnya bermanfaat untuk kecantikan kulit. Buah ini juga dipercaya dapat menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi.

Sirsak
Sirsak biasa dimakan dengan ditambahkan gula, sirop atau dibuat jus. Kulitnya berwarna hijau dan daging berwarna putih. Manfaatnya sebagai pengatur kadar gula dalam darah dan melawan bakteri dalam tubuh.

Posted in Berita Kesehatan, Hidup Sehat, Info Sehat, Kesehatan Umum, Makanan Sehat :: Kata Kunci: , , macam-macam makanan sehat yang berfitamin A, macam-macam buah-buahan, manfaat protein untuk kulit, anemia dengan hipertensi, makanan mengandungi fluorida, makanan yang mengandung fluorida, makanan yang sehat dan manfaatnya, manfaat daging bagi kesehatan, manfaat daging kelapa muda bagi pria, nama buah - buahan dalam bahasa inggris a-z, nama buah buahan dalam bahasa inggris, nama buah dari a sampai z, nama buah-buahan dalam bahasa inggris dari a-z, pengertian buah lokal, makalah masalah kesehatan darah tinggi, macam-macam nama awan, artikel macam macam awan serta pengertiannya, bahasa inggris buah-buahan a-z, buah buahan impor, buah-buahan macam-macam dalam bahasa inggris, contoh gambar buah untuk mewarnai, fosfor untuk kulit, geriatri sehat, gusi putih seperti sariawan, hasil analisa kadar vit c jambu biji oleh hasibuan, jambu merah berfungsi untuk apa, Kasiat kesemek, tertelan biji sawo 0 Comments

Indikasi untuk Transfusi Darah


Transfusi DarahIndikasi untuk transfusi darah makin dipertanyakan. Transfusi darah biasanya diberikan untuk meningkatkan kapasitas pengangkutan oksigen dan volume intravaskular. Walaupun demikian, berdasarkan teori, peningkatan volume vaskular seharusnya bukan merupakan suatu indikasi untuk transfusi darah, karena volume intravaskular dapat diperbesar dengan pemberian cairan yang tidak menularkan infeksi (misalnya, kristaloid atau koloid).

Sehingga, peningkatan kapasitas pengangkutan oksigen merupakan satu-satunya indikasi nyata untuk transfusi darah. Dari segi praktisnya, bila seorang pasien mengalami perdarahan, darah tepatnya diberikan untuk meningkatkan baik kapasitas pengangkutan oksigen dan volume intravaskular.

Secara kritis berapa nilai hematokrit/ hemoglobin yang diperlukan untuk kapasitas pengangkutan O2. Dalam sejarah, hematokrit kurang dari 30% (atau hemoglobin kurang dari 10 g/dl) menunjukkan kebutuhan untuk transfusi darah perioperatif. Bagaimanapun juga ketakutan pada tahun-tahun terakhir akan penyakit-penyakit yang disebabkan oleh transfusi, khususnya Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS), menyebabkan peninjauan ulang terhadap indikasi ini.

Jelaslah transpor oksigen dapat dipertahankan dengan hematokrit hingga 20%. Dengan anggapan volume intravaskular normal dan respon kompensasi kardiovaskular normal (contohnya takikardi).

Baru-baru ini, National Institutes of Health Consensus Conference berpendapat bahwa pasien-pasien sehat dengan hematokrit lebih besar daripada 30% jarang membutuhkan transfusi darah perioperatif sedang pasien-pasien tersebut dengan anemia akut (misalnya, kehilangan darah intraoperatif) dengan hematokrit kurang dari 21% seringkali membutuhkan transfusi darah. Defenisi akhir kadar hematokrit atau hemoglobin yang dibutuhkan untuk melakukan transfusi darah harus berdasarkan pada banyak faktor seperti status kardiovaskular, umur, kehilangan darah yang diantisipasi, oksigenasi arterial, cardiac output, dan volume darah.

Yang lebih memperumit permasalahan ini, indikasi untuk transfusi darah mungkin juga tergantung pada sumber darah. Sebagai contoh, indikasi-indikasi untuk darah autolog mungkin lebih liberal karena tidak akan menyebarkan penyakit (misalnya, hepatitis dan AIDS) dibandingkan dengan darah homolog. Bagaimanapun juga, darah autolog sebaiknya tidak dipandang sepenuhnya aman karena adanya kemungkinan kesalahan klinis dan reaksi hemolitik sesudah transfusi.

Pada bulan Juli 1989 FDA Drug Bulletin, memberikan panduan keras untuk pemberian sel darah merah. Bulletin tersebut menyatakan bahwa “kapasitas pengangkutan oksigen adekuat dapat dipenuhi dengan hemoglobin 7 g/dl atau bahkan lebih kurang bila volume intravaskular adekuat untuk melakukan perfusi.”

Ada kondisi medis yang dapat membenarkan pemberian darah untuk mencapai hemoglobin yang lebih tinggi (misalnya, penyakit arteri koroner). Meskipun demikian, kekhawatiran bahwa transfusi darah seringkali diberikan secara tidak tepat sehingga diperlukan penelitian yang lebih cermat terhadap praktek transfusi.

Sebagai contoh, banyak komite transfusi rumah sakit mengadakan pemeriksaan ulang pada pasien-pasien didapatkan hematokrit postoperatif lebih tinggi dari normal (33-34 %) dan menerima darah sehingga perlu ditinjau kembali indikasi pemberian transfusi darah. Peninjauan ini dilakukan untuk menentukan apakah darah telah diberikan dengan tepat.

Bila ditemukan transfusi yang tidak tepat, baik dokter dan komite transfusi akan mengevaluasi lebih lanjut ketepatan transfusi tersebut. Sehingga seorang dokter ahli anestesi harus menyatakan secara jelas dalam status rumah sakit alasan pemberian transfusi darah.

Yang terbaru, biasanya pada pasien-pasien perawatan intensif, beberapa kelompok telah mencoba mendefenisikan keadaan dimana transfusi darah sebaiknya diberikan dengan mengukur oksigenasi jaringan dan hemodinamik (contohnya: peningkatan konsumsi oksigen sebagai respon terhadap kandungan oksigen). Tidak ada pengukuran spesifik yang dapat secara konsisten memperkirakan kapan seorang pasien diuntungkan oleh transfusi darah.

Walaupun demikian terdapat bukti bahwa kualitas (contohnya, umur) dan peningkatan kapasitas oksigen (misalnya, hemoglobin lebih tinggi dari 10 g/dl) dapat menguntungkan pasien yang sangat tidak sehat. Kenyataannya satu penelitian menemukan bahwa bila darah yang disimpan lebih dari 15 hari diberikan, akan terjadi iskemia limpa.

Lebih baru lagi, konsep yang ditegaskan oleh Purdy et al menyatakan bahwa pasien-pasien yang menerima darah yang berumur 17 hari dibandingkan dengan darah yang berumur 25 hari mempunyai tingkat kelangsungan hidup yang lebih tinggi. Pengaruh usia darah yang diberikan akan didiskusikan nanti pada presentasi ini.

Mungkin indikator lebih sensitif terhadap oksigenasi jaringan (misalnya: pH intramukosal) dapat menjadi indikasi untuk transfusi darah. Menggunakan data pada sebuah populasi pembedahan orthopedik, variasi kadar hemoglobin tidak berhubungan dengan lamanya hospitalisasi.

Namun, atlit yang terlatih dan pasien-pasien kardiak postoperatif mengalami perbaikan kemampuan fisik bila kadar hemoglobin ditingkatkan. Sebaliknya, Weiskopf et al menemukan, pada pasien-pasien yang sehat, penurunan konsentrasi hemoglobin hingga 5.0 g/dl tidak menyebabkan adanya bukti oksigenasi yang tidak adekuat.

Bagaimanapun juga pasien-pasien ini tidak dipermasalahkan dengan stress pemulihan dari pembedahan dan anesthesia. Bagaimanapun juga, Weiskopf et al menemukan bahwa pasien yang tidak dapat meningkatkan cardiac outputnya dengan cara meningkatkan denyut jantungnya sebaiknya menerima transfusi hingga kadar hemoglobin lebih dari 10 g/dl. Sayangnya, tidak dapat dihasilkan kesimpulan tepat dari data yang sangat berguna tapi bersifat usulan ini.

Posted in Info Kedokteran :: Kata Kunci: , , , , , , , komite transfusi darah, anemia pada anak;hematuria;indikasi tranfusi;pdf, tranfusi darah anastesi, teori umun tentang hematokrit, penyakit koloid, peningkatan hemodinamik, pengertian transfusi autolog pdf, pengertian pemberian intravaskuler, pedoman transfusi pada bayi baru lahir, meningkatnya volume intravaskuler, indikasi nilai Hb untuk tranfusi, hematokrit normal, Contoh SOP Hb lansia, contoh gambar koloid, buku laporan pendahuluan pemberian transfusi darah, tranfusi darah terbaru 0 Comments

Teh Kemasan Botolan Memiliki Senyawa Antioksidan yang Sedikit


Teh memiliki senyawa antioksidan polifenol yang baik  untuk kesehatan. Namun peneliti menemukan teh dalam kemasan botol memiliki kandungan polifenol yang lebih sedikit dibanding teh buatan sendiri. Laporan yang dipaparkan para ilmuwan dalam 240th National Meeting of the American Chemical Society (ACS) diungkapkan bahwa teh dalam botol memiliki kandungan polifenol yang rendah. Dicontohkan seseorang harus mengonsumsi 20 teh dalam botol untuk mendapatkan jumlah polifenol yang sama dengan satu cangkir teh.

“Para konsumen mengerti dengan baik tentang konsep manfaat kesehatan dari mengonsumsi teh atau produk teh lainnya. Tapi ternyata ada kesenjangan yang besar mengenai persepsi jumlah sebenarnya dari kandungan yang menyehatkan yaitu polifenol,” ujar Shiming Li, PhD yang melakukan penelitian bersama Profesor CLi menambahkan selain kandungan polifenolnya yang rendah, teh dalam botol ini biasanya ditambahkan zat-zat lain termasuk sejumlah besar gula dan juga kalori. Padahal banyak masyarakat yang sebenarnya menghindari asupan gula berlebih.

Dalam penelitiannya Li mengukur jumlah polifenol dari beberapa jenis teh dalam botol yang dijual di masyarakat, dan didapatkan sejumlah kecil kandungan polifenol. Pengukuran polifenol ini menggunakan alat kromatografi cair kinerja tinggi (HPLC).
hi-Tang Ho dan rekan. Polifenol adalah suatu senyawa yang termasuk kelompok antioksidan alami dan diketahui bisa bersifat sebagai anti-kanker, anti-inflamasi dan melindungi tubuh dari radikal bebas.

Posted in Berita Kesehatan, Hidup Sehat, Info Sehat :: Kata Kunci: , , laporan penelitian kandungan teh, laporan polivenol 0 Comments

Artikel Kedokteran Lainnya:


Loading...
Bedak Pemutih