Sebelumnya telah dikemukakan bahwa pengertian tentang transmisi neurohumoral sangat penting untuk dapat mengerti efek obat otonom. Obat otonom mempengaruhi transmisi neurohumoral dengan cara menghambat atau mengintensifkannya. Terdapat beberapa kemungkinan pengaruh obat pada transmisi sistem kolinergik maupun adrenergik, yaitu : (1) hambatan pada sintesis atau penglepasan transmitor; (2) menyebabkan penglepasan transmitor; (3) ikatan dengan reseptor; dan (4) hambatan destruksi transmitor (lihat Tabel 2.2).
HAMBATAN PADA SINTESIS ATAU PENGLEPASAN TRANSMITOR
Kolinergik. Hemikolinium menghambat ambilan kolin ke dalam ujung saraf dan dengan demikian mengurangi sintesis ACh. Toksin botulinus menghambat penglepasan ACh di semua saraf kolinergik sehingga dapat menyebabkan kematian akibat paralisis pernapasan perifer. Toksin tersebut memblok secara Ireversibel penglepasan ACh dan gelembung saraf di ujung akson dan merupakan salah satu toksin paling poten yang dikenal orang. Toksin tetanus mempunyai mekanisme kerja yang serupa.
Adrenergik. Metiltirosin memblok sintesis NE dengan menghambat tirosin-hidroksilase, enzim yang mengkatalisis tahap penentu pada sintesis NE. Sebaliknya metildopa, penghambat dopa dekarboksilase, seperti dopa sendiri didekarbokslasi dan dihidroksilasi menjai α-metil NE. Guanetidin dan bretilium juga mengganggu penglepaan dan penyimpanan NE.
MENYEBABKAN PENGLEPASAN TRANSMITOR
Kolinergik. Racun laba-laba black widow menyebabkan penglepasan ACh (eksositosis) yang berlebihari, disusul dengan blokade penglepasan ini.
Adrenergik. Banyak obat dapat meningkatkan penglepasan NE. Tergantung dari kecepatan dan lamanya penglepasan, efek yang terlihat dapat berlawanan. Tiramin, efedrin, amfetamin dan obat sejenis menyebabkan penglepasan NE yang relatif cepat dan singkat sehingga menghasilkan efek simpatomimetik. Sebaliknya reserpin, dengan memblok transport aktif NE ke dalam vesikeI, menyebabkan penglepasan NE secara lambat dari dalam vesikel ke aksoplasma sehingga NE dipecah oleh MAO. akibatnya terjadi blokade adrenergik akibat pengosongan depot NE di ujung saraf.
IKATAN DENGAN RESEPTOR
Obat yang menduduki reseptor dan dapat menimbulkan efek yang mirip dengan efek transmitor disebut agonis. Obat yang hariya menduduki reseptor tanpa menimbulkan efek langsung, tetapi efek akibat hilangnya efek transmitor (karena tergesernya transmitor dari reseptor) disebut antagonis atau blocker.
Contoh obat agonis dan antagonis pada system kolinergik maupun adrenergik dapat dilihat pada table 2-2.
HAMBATAN DESTRUKSI TRANSMITOR
Kolinergik. Antikolinesterase merupakan kelompok besar zat yang menghambat destruksi ACh karena mengambat AChE, dengan akibat perangsangan berlebihari di reseptor muskarinik oleh ACh terjadinya perangsangan disusul blockade di reseptor nikotinik.
Adrenergik. Ambilan kembali NE setelah penglepasannya diujung saraf merupakan mekanisme utama penghentian transmisi adrenergik. Hambatan proses ini oleh kokain dan imipramin mendasari peningkatan respons terhadap perangsangan simpatis oleh obat tersebut. Penghambat COMT misalnya pirogalol hariya sedikit meningkatkan respons katekolamin, sedangkan penghambat MAO misalnya tranisipromin, pargilin, iproniazid dan nialamid hariya meningkatkan efek tiramin tetapi tidak meningkatkan efek katekolamin.






